Asslammu’alaikum.wr.wb. Ustad, saya mau bertaya.saya mau menikah tpi orangtua dari wanita yg saya mau nikah ini tidak memberi restu.apa kami bisa tetap menikah dn apa solusi ya..saya mintak petunjuknya.wassalam
85272774xxx
Wa’alaikumussalam Wr Wb.
Perlu diperjelas apa alasan orang tua wanita menolak member restu.
Kalau menolak itu dikarenakan alasan yang dibenarkan agama, misalnya sicowok pemabuk, penjudi, buruk akhlaknya, tidak mau shalat, jauh dari agama, kasar dan bengis, tidak punya pekerjaan sama sekali dan sebagainya, maka alasan penolakan tersebut dibenarkan agama, sebagaimana yang pernah terjadi dimasa Rasulullah, seorang sahabiyah bernama Fathiman binti Qais dilamar oleh Mu’awiyah dan Abu al-Jahm, oleh nabi Fathimah disuruh menolak pinangan dua orang itu, alasan nabi adalah, “adapun Abu al-Jahm dia tidak pernah melepaskan tongkat dari bahunya (kasar), adapun Mu’awiyah orangnya bakhil (pelit), tetapi menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” (HR. Muslim).
Kalau alasan penolakan itu tidak sesuai agama, misalnya karena tidak sekampung, atau tidak sama sukunya, atau tidak kaya dan berpangkat, atau tidak tampan rupawan, sementara si anak gadis sudah setuju dengan laki-laki piliahnnya itu, dimana laki-laki tersebut berakhlak baik, walaupun penghasilannya tidak seberapa, maka dalam hal ini tidak boleh ditolak dan sebaiknya dinikahkah segera, berdasarkan hadits nabi, “apabila datang (melamar) kepada kalian seorang laki-laki yang kalian ridha terhadap akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah, karena kalau tidak dinikahkah maka aka nada fitnah di muka bumi dan kerusakan besar.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya, hasan menurut Syakh al-Albani).
Karena sang ayah tidak merestui padahal dengan alasan yang tidak dibenarkan agama, maka solusinya:
Pertama, mungkin sang ayah butuh waktu untuk memastikan kebenaran dan ketepatan pilihan anak gadisnya, makanya dalam hal ini jangan terburu-buru, mungkin karena tidak terlalu kenal, sekalipun laki-laki baik bisa saja dicurigai dan tidak dipercaya begitu saja, jadi bersabarlah sampai ayahnya siap menerima.
Kedua, ayahnya benar-benar matreliastik misalnya, pinginnya menantu yang kaya, sementara anak gadisnya tidak bisa menikah kecuali dengan laki-laki yang dia cintai yang bagus agama dan akhlaknya (sekufu’), maka dalam hal ini hak perwalian berpindah ke wali hakim atau KUA (al-Mu’tamad fil Fiqh asy-Syafi’I, juz. 4, hlm. 67), berdasarkan sabda nabi, “sulthan (penguasa) menjadi wali bagi yang tidak punya wali.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan lainnnya).
Apalagi nabi menegaskan bahwa hak menentukan pilihan ada pada anak gadisnya bukan ditangan ayahnya. Rasulullah bersabda, “dan anak gadis itu tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai izin dari dirinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jadi, silakan anda datang ke KUA dan jelaskanlah duduk perkaranya sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya, semoga Allah memberikan anda kemudahan.
Wallahu A’lam bish Shawab