Abang Ojol dan Remaja Bermulut Parutan Kelapa

KATEGORI ARTIKEL: CATATAN

January 3, 2024

Sering terjadi dalam proses antar pesanan, si pemesan membuat titik antar pada peta disertai nomor dan blok rumah. Alih-alih mempercepat pengantaran, malah yang terjadi malah delay. Kok bisa?

Kang ojol menjadikan patokan utamanya peta sesuai titik aplikasi, kurang lebihnya diselesaikan lewat panduan by phone atau via chat. Jika sudah berhenti pada titik, harusnya tinggal clingak-clinguk sebentar lalu ketemu.

Jika titik antar berhenti pada row depan komplek, maka mau nggak mau, bang ojol harus membaca blok dan nomor rumah, satu per satu! Masalah makin runyam ketika plang identitas blok ga ada, nomor rumah pun masih standar rumah ready stock alias ditulis pada plat pakai spidol yang tintanya kayak mau habis.

Masih ada cara lain agar sampai ketujuan. Yak betul, bertanya.

Dan inilah yang mau saya ceritakan.

Dalam pencarian tadi, melewati sekumpulan remaja tanggung, dua cowok dan dua cewek. Yang cowok berpeci hitam, pulang dari mushola kompleks kayaknya. Yang cewek pakaian biasa. Mereka asyik ngobrol di gang komplek, sambil pegang hape tentunya.


Walau saya sudah berumur, tetap saya sopan bertanya,

maaf, blok F1 di mana ya?”.

Mereka saling pandang, menggeleng. Satu anak yang bersandar di pagar rumah menampakan wajah ketus.

Oh ya gak apa kalo ga tau“, kata saya sambil memutar balik stang motor.

Belumlah berputar sempurna, si wajah ketus tadi setengah berteriak,

Woy, kalo ditanya jawab woy!!”.

Kalimat tadi diluncurkan ke kawannya, tapi tujuannya menyindir ke saya. Kok tau? Ya karena moncong mulutnya dan arah mata anak laki-laki itu di arahkan kesaya.

Sejenak menatap sebentar muka bocah-bocah ini, lalu saya geleng-geleng kepala. Kemudian lanjutkan berkendara.

Dalam pikiran, kenapa ada anak baru gede yang perangai mulutnya mirip parutan kelapa seperti itu? Salah didik atau salah gaul?

Tak mungkin salah didik, orangtuanya pasti mendidik dengan pendidikan yang baik. Tak juga salah gaul, sebab sekilas hanya bergaul dengan seumuran dan satu kompleks.

Tinggal satu kemungkinan: salah ngasih makan. Kemungkinan ada kesalahan dari sumber makanan yang diberikan orangtua mereka.

Tapi sudahlah, Saya tak mau menghakimi orangtua mereka dalam pikiran ini. Mungkin, wajar saja mereka tak suka tukang ojeg yang tiba-tiba menyela bertanya. Toh mereka tak punya kewajiban menjawab.

Tapi mereka tetap wajib sopan, ya kan?

IKLAN

By Google