Makan Martabak 61 ribu

KATEGORI ARTIKEL: CATATAN

February 2, 2024

Seharian belum dapat orderan itu, seperti diiris-iris tipis detik per detiknya. Perih tapi tak berdarah. Hingga, datanglah kabar gembira; orderan masuk!

Pandangan langsung tertuju ke resto tujuan. Resto Mak Onah, oh martabak rupane. Tau ini mah…

Bismilah geser, biar kekonci.

Sejurus kemudian, ada chat masuk.

“ga jadi”

Maksud?

“Ga jadi pesen”

Alamak.

Bener-bener kekonci di dalam. Orderan udah jadi, saya dah geser di lokasi. Taunya ga jadi. Saya kekonci, yang jualan ke konci. Mau diorderan-fiktipkan, posisi masih di resto.


Berpikir sejenak, lalu memutuskan, siap menembus hujan, walau endingnya udah ketauan.

Berangkatlah saya menembus hujan berbekal harapan yang tak pasti, siapa tau dia berubah pikiran.

Setelah jalan hampir sembilan kilometer, sampailah di sebuah pondok pesantren daerah Cikaso. Ada rumah dengan plang “Ananda Laundry”, sesuai dengan kebolehjadian rumah ini merangkap Percetakan Ananda.


Telpon tiga kali, chat berkali-kali, tak ada jawaban pasti. Saatnya mencari solusi, siapa tau bisa dianggap order fiktip.

Lima kali melaporkan, jawaban aplikator tetap ini bukan fiktip. Mungkin, aplikator hanya akan menyebut suatu orderan fiktip, jika dan hanua jika, tidak ada respon dari pemesan. Hanya segitu.


Bagaimana menentukan kriteria suatu orderan fiktip jika konteksnya seperti tadi: sudah jadi, tapi dengan enteng minta batal. Dan itu langsung berimbas ke dua pihak, driver dan resto. Akhirnya, saya mengalah, sekaligus mengaku kalah.

Hujan gelap dor dar petir, saya anggap persaksian sejati alam kepada saya, bahwa saya mencari nafkah dengan halal, kerja baik cara baik. Perkara aplikator yang tak membantu saya anggap itu romantika hidup. Perkara pemesan tak mau bayar dan terkesan main-main, membuktikan bahwa manusia tak selalu menjadi tempat berharap.

Akhirnya, saya pulang, setelah 16 km perjalanan menembus hujan dengan membawa sekotak martabak seharga 61 ribu. Martabak termahal yang pernah kami makan. Dalam keseharian, beli martabak seharga 20 ribu saja berpikir lama. Lha ini, 61 ribu. 😂


Bagaimana solusinya, aplikator angkat tangan, resto ga mau rugi, dan pemesan kambuh watak jahatnya?

Allah solusinya, jangan berharap banyak pada manusia.

IKLAN

By Google