Sudah Saatnya GrabHemat Ditinjau Ulang

KATEGORI ARTIKEL: CATATAN

February 5, 2024

Senin pagi yang indah, segarnya udara kaki gunung Ciremai merasuk syaraf otak, mengaktifkan dophamin, sehingga menimbulkan kesan semangat pagi.

Centring pertama, mengantarkan anak tetangga jauh ke sekolah. Sejauh-jauhnya tetangga, paling cuma 200 meter-an.

Selesai drop-off, putar balik kearah rumah, sebab anak sendiri belum diantar. Dalam perjalanan sekira seratus meter, masuk orderan baru.

Orderan ini bikin kadar dopamin menurun, kortisol yang naik. Ternyata, orderan berasal dari titik jemput sejarak 3.5 km dari saya berada. Upah yang akan saya terima adalah 12.750 untuk mengantarkan penumpang dengan jarak tujuan 6.32 km ke titik tujuan.


Letak masalahnya adalah jarak ke titik jemput yang sangat manusiawi sekale. Menjemput ke dataran tinggi kaki gunung Ciremai, menanjak sejauh 3.5 km, untuk mendapatkan upah antar dari titik tersebut sebesar kurang dari 13 ribu.


Calon penumpang saya minta cancel, disertai permintaan untuk alasan cancel agar memilih ‘ingin ganti kendaraan’. Dengan alasan itu performa harian saya aman. Ternyata, performa ngedrop. Dia ga paham. Aplikator ga mau tau.

Selepas kejadian pahit barusan, berjalan sekira 50 meter, masuk lagi orderan. Kali ini titik jemputnya 2.8 km, berliku lewati persawahan. Dari situ, order mengantarkan penumpang sejarak 5.05 km. Alhasil, (2.8+5.05) km adalah jarak yang harus saya jalani dengan upah 10.625 perak.


Di sini, dopamin benar-benar habis, berganti hormon kortisol. Ngeselin dan nyesek.

Jika saja ada janji manis di balik orderan tadi, misal setelah orderan dijalani dengan sempurna tanpa cela, yang kemudian akun menjadi gacor, pasti dengan senang hati akan dilakukan. Tapi, tak ada janji manis seperti itu.

Uraian di atas adalah GrabHemat versus titik jemput dengan jarak sadis.

GrabHemat Malam

Lalu, bagaimana dengan GrabHemat waktu malam? Ini dia masalahnya.

Sering terjadi penyalahgunaan layanan GrabHemat di waktu malam. Salahsatu contoh, pemesan satu orang tapi yang naik lebih dari satu dengan alasan ‘sudah malam – sekalian naik’. Tak cuma itu, kadang dengan enteng penumpang memberi ongkos plus basa-basi minta maaf hanya ngasih 8000 dari yang seharusnya membayar 8500. Dia membuat diskon tandingan 500 buat dirinya sendiri.

Kesimpulan Pahit

Dari dua contoh kejadian di lapangan, sudah seharusnya GrabHemat dibatasi waktu operasi 6 to 6 dan jarak maksimal antar, sebut saja 4 km, dan atau maksimal jemput 1 km.

Setuju gak setuju, keluhan sudah disampaikan.

IKLAN

By Google