Cerita tokoh ojol kali ini mengenaskan. Seharian sampai jam 10.30 malam hanya dapat dua order. Begitu jam bergeser 4 menit berikutnya, orderan masuk.

Dijemputlah pengorder ke titik sekira 1 km ke arah selatan. Dengan tujuan desa C, lewat desa K.

Antara desa itu, jalanan menaik menurun, dan berliku, gelap tentunya. Persawahan di antara pohon bambu dan semak liar. Jika melalui rute ini di siang hari menyenangkan, adem dan air mengalir jernih. Tapi jika malam tiba, suasana terasa mencekam bagi orang yang tak biasa dengan sepi, terlebih ada bangunan yang hampir jadi tapi tak diselesaikan dekat rimbunan pohon. Entah kenapa dan apa maksudnya.

Begitu penumpang diturunkan, dikeluarkannya uang berwarna biru. Abang ojol menyebut ‘uang pas saja bang’, sambil melihat layar. Ey… rupanya tagih tunai hanya 9k, promo 3k. Tentunya harus kembalikan 50k-9k.

Abang ojol punya harapan sederhana: pulang narik harus membawa beras, dan lauk berupa kecap. Dan harus segera mengubur harapan itu seketika, sebab tidak ada uang pas yang dimaksud – kecuali uang lusuh senilai 7k.

Abang ojol menerima, sedangkan penumpang berjanji akan membayarkan 2k sisanya jika bertemu kembali.

Cerita di atas adalah nyata. Ndilalahe, abang ojol ini terbiasa dengan pahitnya hidup, sepahit kopi hitam di warung Denok.

Oleh karena itu, buat Anda wahai aplikator, perlu kiranya melakukan revisi tarif yang ramah driver. Jika ada driver yang mau narik jam segitu, artinya loyalitas harga mati (seharga sekilo beras). Matikan saja tombol promo, dan atau naikkan tarif sambil perbesar porsi ojol, k a l o. b i s a.

Sebab jam segitu adalah waktu di mana potensi resiko lebih tinggi dibanding siang hari, plus jalur jurig yang gak semua ojol mah dibayar dengan semurah itu. Hanya driver yang tahan siksaan yang bisa melakukannya. Dan mereka itu aset.