Salahsatu hama pengganggu di ladang aspal para ojol adalah adanya orderan fiktif. Tentunya menggunakan aplikasi pelanggan dengan modus dan motif berbeda.

Berbagai Motif dan Modus

Bicara motif dan modus orderan fiktif berkisar antara tiga motif.

Pertama, motif penipuan dengan menguasai akun wallet si driver. Modusnya, setelah driver hampir menyelesaikan orderan, driver tidak menemukan pemesan di titik antar yang dimaksud.

Biasanya, penipu muncul memainkan peran sebagai pihak mitra aplikator. Menggunakan Voice Call Whatsapp untuk menghubungi driver. Dalam kondisi panik, driver rentan memberikan informasi berharga terkait wallet/dompet tunai, memberikan OTP misalnya.

Driver dengan nomor handphone terdaftar di aplikasi dan nomor WA – yang sama akan lebih mudah ditipu dengan cara ini, dibanding mereka yang memisahkan nomor terdaftar di aplikasi dengan nomor WAnya.

Gampangnya, penipu tidak menemukan celah berikutnya, kalopun akan menghubungi akan menguras pulsa dia dan nomornya tertera jelas. Beda dengan Voice Call WA, nebeng wifi gratisan pun masih bisa call.

Lalu, darimana dapat nomor WA buat call tadi? ya gampang, WA hanya perlu verifikasi sekali dari nomor aktif. Dan nomor ini tak mereka pakai dari operator lokal. Di internet banyak tersedia virtual number, yang gratisan pun ada. Itulah mengapa si penelpon menggunakan kode negara selain +62. Virtual number rupanya.

Dalam situasi ini, ojol disarankan tenang, selesaikan dengan kasih bintang satu, lalu lakukan langkah reimburstment.

Kedua, motif memperkaya diri dengan melakukan order fiktif. Penipu di sini diduga si pemilik kedai/resto atau yang terafiliasi resto, dengan tujuan kejar target penjualan.

Biasanya pada kedai yang tipe produknya tak tahan lama alias gampang basi. Modusnya adalah dengan order dalam jumlah banyak tapi jika diteliti lagi, packagingnya terkesan asal-asalan dan supercepat di luar batas normal kecepatan saji. Srat sret bungkus-brangkatttt..

Selanjutnya, ketika order sudah diserahkan ke driver dan mulai proses pengantaran di situlah manusia laknat beraksi: dicancel ditengah jalan pengantaran. Driver terjepit, walau reimburstment itu bisa dilakukan.

Ketiga, motif penyakit hati: puas hati setelah menyakiti. Pelaku tak mencari keuntungan materi, tapi kepuasan batin dari tingkah busuknya. Bisa jadi tertawa puas melihat driver mulai nyocol lalu pergi ke kedai yang akhirnya celingukan di titik akhir pengantaran.

TERINDIKASI FIKTIF

Dari tiga motif berikut modusnya tadi, hal terpenting adalah mengenali sekilas pandang apakah suatu orderan itu wajar atau tak wajar. Berikut ketidak wajaran se bagai deteksi dini order fiktif:

Pertama, perhatikan menu dan jumlah orderan.

Misalnya pesan hanya satu menu dengan jumlah maksimal tentunya harga menu ambil yang termahal dan jarak terjauh. Kalo menemukan indikasi seperti ini, waspadalah. Walau ada saja yang non fiktif. Tapi jarang.

Order fiktip pada gojek

Kedua, perhatikan nama pemesan.

Pada gambar di bawah ini, dua driver sedang melaporkan akun ‘Cebok’, yang melakukan order di dua resto berbeda, dengan titik antar tak masuk akal, jumlah order termasuk tinggi. Susah dihubungi. Klop, aplikator langsung eksekusi mati akun ini.

Jadi motif, modus dan indikasi penipuan ini sebenarnya bisa ditekan dengan langkah proaktif dari aplikator. Sekali ketemu, libas saja. Biar mereka kelimpungan buat akun lagi, daftar nomor lagi. Dan seterusnya.

Semoga bermanfaat.