Kali ini saya ngomong sendiri. Tulisan ini bisa toxic bisa tidak, tergantung seberapa rasio nutrisi yang berasal dari makanan halal dan haram, dalam darahmu.

Apapun sebutanya mau itu driver, mitra, partner, ojol, ojek online, ojek daring, teuteup saja ojek.

Yang, cerita manisnya adalah: dapat tips sekian dari penumpang, dapat oplenan sehingga saldonya ga dipotong sama aplikator, dapat jumat berkah. dan lain segalanya.

Yang cerita pahitnya adalah: orderan anyep, tarif food turun jadi 7200, driver membludak orderan sepi, dapat bintang satu, dan lain sejenisnya.

Semahal apapun outfit yang dipakai mulai dari ujung kepala sampe ujung kaki, kamu itu ojek yang dipesan jasanya untuk nungguin makanan — antar makanan — lalu dapat bayaran minimal 7200, lalu muter lagi cari order. Sukur-sukur dapat tips.

Segagah apapun motormu, segahar apapun knalpot motormu, kamu itu ojek. Mau bertingkah jumpalitan nguing-nguing walau lagi ga ngawal ambulan.

Sebanyak apapun anggota komunitasmu, kamu itu ojek. Mau warna warni rompimu, kamu itu ojek, mau sekilo pin di jaket rompimu, kamu tetap ojek.

Jangan pula mengasuh anggotamu macam geng motor: salah atau benar kudu dibela, nyenggol anggota samadengan ngajak ribut.

Jangan pula merasa paling bernyali. Kecuali sudah lolos tirakat ilmu kebal sajam, bolehlah (tinggal nunggu hari nahasmu).

Jadi, hakikatmu ojek ya ojek, kembalilah ke hakikatmu: ngojek buat mencari nafkah, utamanya buat keluarga. Tak lebih.