Jam menunjukkan pukul 10.24 malam, di saat hujan masih betah membasuh bumi. Notif muncul di layar dengan ringtone mengusik hati “Ayah ada orderan”, seolah pemilik suara mendekam dalam hape.

Titik nol keberangkatan driver ke titik satu, berjarak 4.53 km. Sedangkan titik satu sebagai titik jemput order ke titik dua tujuan akhir berjarak 0.58 km alias 580 meter.

Jawabannya adalah: tidak ada yang mau menerima order dengan upah versus kondisi di lapangan seperti itu.

Item yang di pesan adalah dua item nasi goreng ‘Aa Boy’, dengan harga bill +ongkir 39k.

Pertanyaan pertama, kenapa jarak keberangkatan driver ke titik jemput order (4.53km) LEBIH jauh dibanding titik jemput ke titik antar (0.58 km), di saat tengah malam dan hujan?

Jawabannya adalah: tidak ada yang mau menerima order dengan upah versus kondisi di lapangan seperti itu.

Ilustrasinya seperti berikut. Seseorang memesan/order nasgor sampai ke driver pertama yang terdekat, oleh driver ini ditolak, pemesan mengulagi order, sampai mendapatkan driver yang mau diupah segitu.

Penolakan dari driver pertama agar sampai ke siapa saja driver yang mau selanjutnya, dinamakan ‘blast’ atau ‘ngeblas’ atau apalah semisal itu.

Sistem tidak bisa memasukan parameter lain selain berapa selisih jarak titik satu ke dua, dan berapa hitungan detilnya.

Itulah sebabnya, sistem tidak mengenal kondisi titik satu ke titik dua di saat hari hujan, atau jalanan rusak, terpencil, naik turun perbukitan dll.

Dia hanya menghitung jarak dengan garis lurus ke titik dua. Kerjakan dapat upah, atau tolak dapat penurunan performa.

Untungnya, dengan kondisi seperti itu, ada driver yang mau, sehingga pemesan bisa makan nasgor hangat, tengah malam dan hujan.

Pemesan membayar tagihan 39k, dan memberikan tip 1k sebagai pembulatan ke 40k. Driver menerima dengan tangan gemetar kedinginan.

“Ayah ada orderan” berbunyi lagi sebagai notif pekerjaan telah selesai.