Semua akan doa pada waktunya, semua doa ada waktunya.


Ada doa belum dikabulkan karena tak tepat waktu dan konteksnya. Ada pula doa bukan tak dikabulkan tetapi karena DIA ingin melihat apakah kesungguhan kita berbanding lurus dengan syarat dan ketentuanNya.

Ada doa yang disegerakan kabulnya, ada yang lambat terkabul.

Doa
Lelaki berdoa (pixbay)

Kadang, sangat butuh akan sesuatu tapi sulit dikabulkan, seakan menguji kesabaran tanpa ada durasi batas waktu.
Kadang pula, tak sengaja terucap sesuatu, terkabulkan saat itu juga.

Unik kalo bicara doa ini.

Ada tempat tertentu dimudahkan kabulnya doa, ada waktu tertentu pula dilancarkan kabulnya. Ada pula, orang tertentu yang ‘tajam’ doanya.

Ada doa makbul di waktu hujan, di waktu sepertiga malam, atau malah di waktu khatib duduk diantara dua khutbah.

Doa juga menuntut syarat logis.
Berdoa lulus tes CPNS tapi tak pernah ikut ujian CPNS, berharap lulus AKMIL tapi boro-boro ikut dibotakin di Kodam, gak bakalan tembus, mau jungkir balik sekalipun.

Atau, driver Grab berharap dapat orderan tapi saldo ga diisi, sulit, kecuali order offline.

Doa juga menuntut orang yang berdoa untuk tahu diri.

Kalo muka pas-pasan, kantong selalu tipis, pendidikan seadanya, berdoa ingin menikahi gadis cantik kaya berpendidikan, ini namanya tak tahu diri. Walau sah-sah saja berdoanya.

Juga, banyak dosa, tapi menginginkan mati masuk syurga agak anu, walau sah-sah saja.

Khusus yang terakhir barusan tadi, banyak dosa tapi ngarep masuk syurga namanya tak tahu diri. Tetapi, merasa banyak dosa sehingga merasa malu atau merasa tak layak mendapatkan syurga, justru orang yang sangat paham diri. Apalagi dengan pengakuan tak kuat atas panasnya api neraka. Seperti halnya Syair I’tirof Abu Nawwas.