Tulisan ini mewakili diri sendiri yang merasa terintimidasi mendung, seolah terancam rejeki terhalang ketika hujan. Istighfar.

Mendung (foto izulthea.com)

Tak dipungkiri, satu-satunya profesi yang berharap hujan turun dengan durasi dan intensitas tinggi hanyalah tukang ojek payung. Hujan adalah mata uang. Selain mereka, ada saja menganggap hujan sebagai ancaman jangka pendek, dan berharap segera reda.

Tukang es adalah profesi yang paling terancam dengan turunnya hujan. Tapi petani sangat berharap dengan hujan, apalagi sawah tadah hujan. Penjual es berharap pada rasa haus dan mood para penikmat es. Di mana saat hari terik, es jadi buruan.

Ada juga profesi yang tak terpengaruh hujan atau tidak, yang penting hari gelap. Hujan dan gelap, atau hujan saja, atau gelap saja. Dialah tukang sekoteng, jahe merah, bandrek dan sajabina.

Kalo driver ojol bagaimana? Pake rumus dulu. Jika hari hujan, food demand akan tinggi, gacor di depan mata. Hujan adalah berkah. Jika hari tak hujan, juga berkah: navigasi nyaman, order lancar, ngalong pun asyik.

Hujan atau tidak hujan, bawa asyik aja. Yang penting jangan sampe menyalahkan hujan, atau ketus dengan turunnya hujan.