Menyusuri aspal basah di malam setelah tahun baru, dapat pesan mistis dari penguasa alam semesta.

Bukan sepatu neng Cinderella, tapi sepatu kuda. Hewan setia lagi penurut. Saking penurutnya, dia hanya mengerti narik delman, makan dan tidur. Takdirnya, mungkin begitu.

Sepatu Kuda

Kuda hanya dibekali sepatu besi, dan kacamata yang hanya mengarahkan mata ke depan. Yang dia tahu hanya menjalankan perintah dari suara pengendali, kadang dikombinasikan dengan pecutan.

Lelah memang, tapi apa mau dikata, itulah hidupnya. Hidup tanpa pilihan, kalau pun ada, pilihan yang tersedia sangat rumit.

Tak ada masakan istimewa, hanya rumput, kadang daun ubi jalar. Paling banter disuguhi menu dedak ditambah potongan boled, alias ubi jalar. Itu pun bukan dari varian ubi Cilembu.

Kuda hanya menjalani hidup seperti yang sudah digariskan, tanpa bisa melakukan perlawanan bearti. Tak ada sanak saudara, apalagi pasangan hidup.

Kuda bersyukur, disediakan tempat tinggal dan makan gratis oleh tuannya, dengan durasi kerja yang sakeyeungna.

Kalaupun dia hidup bebas, siapa yang akan mengamankan dia dari ancaman preman hutan, belum lagi kalau hutannya sudah dibabat habis oleh manusia rakus: pemilik modal dan pembuat kebijakan. Apalagi jika dibawah tanah hutan itu mengandung mineral, logam mulia, apalagi minyak. Habis. Yang tersisa rasa pahit. Sakit.

Jika saatnya dinas, ngantuk pun dia jalani, abai atas lelahnya. Panggilan tugas katanya. Maka tak aneh, kuda tidur pun kadang berdiri, tak ada bantal kasur apalagi selimut. Tak ada baygon pengusir nyamuk, hanya asap dari rumput lembab yang kadang bikin batuk tetangga.

Itulah cerita kuda. Penguasa semesta mengirimkan pesan kepada saya, melalu sepatu besinya.