Masih tentang order food. Paling tidak sudah ada tiga artikel sebelumnya tentang ini. Dan ini adalah artikel pamungkas. Tepatnya gendeng pamungkas.

Dalam satu harian, sengaja layanan GF dibuka, selebar warung TieHot. Order masuk seperti antrian klinik Tong Fang. Dari semua order, tak ada satupun yang non tunai. Semua cash, dan menyisakan banyak cerita.

***

Ceritanya, ada yang order nasi kikil Cahaya Minang. Speed layanan warpadnya ok, tau dong, kecepatan prepare menu warpad. zap zap zap. Beres.

“Tolong antar ke jalan anu, samping sekolah anu, pagar warna anu”.

Osssiapp teh.

Sampai ditujuan, gerbang megah dari kayu, ada bel yang entah berfungsi atau tidak. Notif sudah sampai belum centang dua, call ga diangkat. Mungkin lagi sholat, mungkin lagi ngeden di toilet.

Lima menit berlalu, masih belum ada tanda-tanda sambutan.

Lalu molor sampai sepuluh menit baru dibalas: pak anternya ke kantor aja. Lah.

Oh ya, pelanggan adalah raja. Bisa jadi raja tega, atau raja ga tega.

Putar haluan, ganti titik antar ke kantor, tibalah saya.

Masih menunggu, baru keluar dua menit kemudian. Dikeluarkan duit gocap, padahal sudah dibilang kalo cash, uang pas saja. Manyun dah.

Akhirnya balik lagi dengan uang pecahan. Nah gitu dong.

Udar-ider kayak barusan, buang waktu makan hati. Bukankah waktu adalah uang, uang yang belum dikonversi.

***

Akhirnya, dengan melihat, merasakan, menimbang, dan memutuskan bahwa: pareuman sakalian, tuman!