GRAB maupun GOJEK, mempunyai ciri khas yang sama: menghitung jarak antara minimal dua titik tempuh, dan rush hour, dalam menentukan tarif akhirnya. Khas perhitungan ala manusia perkotaan.

Dua perusahaan angkutan khusus ini, tidak memasukkan medan yang ditempuh, cuaca saat order dikerjakan, dan topologi area yang dijelajahi, dan sejenisnya dari faktor X.

Pendeknya, jika titik satu dan dua berjarak sekira ± 3 km, maka biayanya senilai X rupiah, dengan comission yang akan dipotongkan ke saldo driver.

Perusahaan mitra tidak mau tahu, bahwa area itu berbukit, banyak jurang dan sungai berbatu, jalanan rusak dan gelap, dan rawan kejahatan plus mistis.

Sebut saja area Panawuan – Koreak, yang terkenal pelosok, perjalanan naik turun, gelap berhutan dan kebun. Jika driver melakukan perjalanan malam, tentunya berpikir berkali-kali jika dilakukan sendiri.

Maka, jika ada penumpang turun di kota saat malam larut, biasanya driver meminta bantuan pengawalan dari rekan sesama ojol. Tentunya ada tambahan biaya.

Bagaimana kalau calon penumpang menolak? ya bebas saja, termasuk calon penumpang bebas jalan kaki ke lokasi itu, sebab tak ada driver yang mau.

Atau, lokasi Bojong Pakembangan melewati hutan kera, dengan tujuan desa Trijaya, desa terujung di kaki gunung, tengah malam ada order ke sana. Melewati desa-desa, menanjak dan menurun curam, di antara bambu dan jembatan penghubung. Horor!

Hanya driver setengah edan yang mau mengantarkan ke area itu, jam segitu.

Maka, tak aneh jika hari mulai gelap, apalagi cuaca hujan, driver mulai menghilang. Ada kekosongan driver saat itu. Ada-ada saja, untuk mengisi kekosongan driver dilakukan rekrutmen tanpa henti.

Masalahnya bukan di situ, tapi di sini: faktor X selain jarak dan rush hour yang disebut barusan, sebaiknya diikutkan dalam penentuan tarif.

Jangan Jakarta Sentris-lah.