Tulisan ini boleh dibilang antitesis dari “Usaha Tak Akan Mengkhianati Hasil”, khususon yang sering dituliskan oleh manusia galau di dinding ratapan sosmed.

Jika dituliskan ketika usaha akan dijalankan, maka bolehlah disebut ekspektasi.

Jika dituliskan setelah usaha, dan berhasil, bisa disebut ‘sesuai ekspektasi’. Namun sayang, peran Tuhan di sini diiris tipis-tipis, seolah tak ada peran sama sekali. Hati-hati, mang!

Letihnya mencari nafkah, ada hitungannya. Nampak anyep di dunia, bisa jadi gacor di akherat.

Muter sebentar.

Jika sudah mempersiapkan usaha dengan sebaik-baiknya persiapan, lalu roda berputar, dan ternyata gagal, jangan pula menyalahkan keadaan, tarimakeun weh. Sebab itulah hidup, berjalan atas doa, usaha, tawakkal, dan siap menerima takdir.

Kenapa ujug-ujug saya menulis seperti ini, ada ceritanya.

Merekam keluh kesah abang ojol, yang hari Natal kemaren, kerasa anyep. Ada yang dari pagi muter, sampai siang baru dapat dua sewa.

Ada yang sampai sore baru lima sewa.

Padahal usaha poll: TopUp sebagai penguat sinyal udah, muter-muter ampe bensin kering udah, tapi cuma dapat segitu. Murung sepanjang duduk.

Ulah kitu mang!

Mamang harusnya bersyukur dapat lima begitu masuk beduk lohor. Ada yang baru dapat satu dari pagi sampe lohor.

Mamang harusnya bersyukur ada yang hanya dapat satu dari lohor sampe bedug magrib, sedang mamang dapat enam.

Mamang harusnya bersyukur ada yang masih bertahan dengan satu sewa, padahal usah masuk bedug isya, lalu pulang dengan tangan hampa.

Yang hanya dapat satu tadi, pulang dengan rasa syukur: bahwa masih diberi kesempatan hidup dan ibadah, juga bertemu anak-anaknya.

Bisa jadi, sebenarnya, reward non tunai orang yang bersyukur, akan bisa ditukarkan ‘poin’ di akherat nanti.

Letihnya mencari nafkah, ada hitungannya. Nampak anyep di dunia, bisa jadi gacor di akherat.

Percanten!

Jadi, hayu urang selalu bersyukur, saha wae. Lain mamatahan ieu mah. Bukan nasehat, tapi khususon ke pribadi sendiri.