Di pinggir Toserba Fajar Jalaksana, duduk di warkop beroda berwarna kuning. Sambil ngopi seduh sasetan, mengamati beberapa orang yang berjalan kaki tanpa alaskaki.

Orang yang berjalan itu, tak sendirian, sisi kanan dan kiri jalan, seolah beriringan. Tatapan mata menyusuri jalan, mirip orang sedang mencari benda yang hilang. Rambut acak-acakan, baju kadang rombeng, dan telapak kaki menghitam, sebab jalan tanpa alas kaki.

Mereka, ada tanda uniknya: menggunakan tas selempang yang terbuat dari kantong kresek hitam, dislempangkan menggunakan tali plastik.

Analisa bawahsadar saya melihat, mereka bukan orang biasa. Dan bukan orang tak waras. Sebab tatapan mata tidak kosong, cenderung tajam, mata (dibuat seolah) sayu, kadang karena lelah berjalan.

Dugaan pertama, mereka adalah ‘aset’, dugaan kedua, mereka adalah ‘aset’ yang sedang PKL alias praktik kerja lapangan.

Sedangkan dugaan ketiga, mereka emang sedang lelaku: syaratnya menyusuri jalan dari timur ke barat, tanpa bekal.

Mungkin, sekali lagi mungkin, mereka merasa tak ada yang mengenali. Tapi ternyata saya mengenali mereka.

Beberapa hari sebelumnya, saya terlibat obrolan dengan juragan siomay, gerobak gacor depan alfamart. Saya bilang, coba nanti, amati orang dengan ciri-ciri kresek hitam, dan jalan kaki tanpa alas, menyusuri jalan.

Dan, benar saja. Ada yang lewat dengan ciri-ciri tadi. Bergegas juragan siomay merek gacor lapor, “Tuh bang”, sambil arahkan telunjuk ke jalan. Saya tau maksudnya.

Di jalan provinsi, mereka berjalan beriringan, depan belakang. Dengan style seperti disebut di awal.

Kira-kira empat kilometer dari titik tadi, ketemu lagi, hujan sebentar lagi menyapu aspal. Mereka berhenti.

Tak mau menyia-nyiakan waktu, segera saya merapat. Ucap salam, dan matikan motor.

Dan benar saja, mereka menjawab dengan tertib. Saya tanya, mas-mas ini dari mana hendak kemana. Mereka bergantian menjawab, kami dari Surabaya, menuju Cirebon.

Pertanyaan kedua, mas ini hanya berdua apa ada rombongan lain. Mereja jawab, ada mas, tapi kami berpencar.

Berpencar?

Agak aneh memang, dari Surabaya menuju Cirebon. Tapi mereka muncul dari arah selatan, bukan dari arah timur menuju barat, seperti halnya pengelana biasa yang bersarung dan bertongkat. Menyusuri pantura.

Keanehan berikutnya, dari titik mereka muncul, sebenarnya bisa lurus ke Cirebon, hanya sekira 2 km lagi. Tapi mereka belok kiri, yang biasanya, hanya orang (baru lewat) yang menggunakan GPS. Mereka berjalan ke arah Sumber via Mandirancan.

Tapi sudahlah, semoga mas-mas tadi tirakatnya berhasil, atau, ujiannya lulus: jika mereka ‘aset’.