Kaget campur aneh, gerobak cilok yang tadi ada di kota, ketemu lagi di perbatasan Cirebon dan Kuningan, apakah si penjual ini waliyullah, apakah dia memiliki ajian saipin angin, atau melipat bumi? Berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dalam hitungan detik?

Eh, tapi ngapain pula abang cilok punya ajian seperti itu, lah kapan jualannya? haha..

Jualan cilok harus seperti pengungkapan kasus penembakan misterius, tiap jengkal harus dijejaki, jangan terlewat. Siapa tau ada proyektil yang lupa dibuang jauh. Bang cilok juga gitu, kecuali dagangan habis.

Cilok Ozo Lali (foto: izulthea.com)

Saya jelaskan sedikit gerobak cilok ini. Warnanya ijo, mirip warna ormas anu. Tulisan Cilok Ozo Lali-nya warna coklat atau merah, tergantung stok cat. Dan, font yang dipakai seadanya, mirip tulisan tangan pada body samping gerobak.

Dengan deskripsi seperti itu, saya pikir gerobak cilok ini adalah satu-satunya gerobak operasional.

Ternyata saya salah, gerobak itu banyak ternyata. Ada bandarnya ternyata, mantap.

Mereka bergerak di bawah naungan korporasi rumahan, alias UMKM.

Dan, kenapa yah, desain gerobak ciloknya memilukan?

Ntahlah, mungkin ini trik marketing, who knows? Lil ibarat, “Jangan Tengok Kanan” walau sudah basi, masih ada yang pakai.