Layanan GrabExpress ceritanya: Menjelang zuhur depan suatu masjid, ketika akan belok ke pelataran masjid, ada notifikasi order.

Order GrabExpress.

“Bang, ke Ayam Gerprek ya, sekalian bayarin dulu 86 ribu”.

Sebagai orang yang berpengalaman sebagai dhuafa, saya menolak halus. Sehalus kapas.

“Duh, punten pisan, ini teh baru keluar pisan.”

“Jadi ga bisa ya, A?

“Muhun teh, mangga di cancel ajah”

Order Cancelled by Passenger.

Jadi gini. Menurut imajinasi liar saya, ini adalah suatu trik bagaimana menghindari harga order food yang lumayan anu.

Sudah bukan rahasia lagi, agar merchant mendapatkan margin yang wajar, mereka menaikkan harga 20% lebih tinggi dibanding harga pesan di tempat. Noban persen ini untuk menutupi fee yang diikutkan dalam order, ya 20%, sehingga harga tetap berdiri kokoh di harga pesan biasa.

Kepada siapa dibebankan 20% ini? ya akan dibebankan kepada konsumenlah. sebagai strata paling bawah dalam rantai makanan. Paling banter, merchant akan mainkan diskon, what so ever they named.

Lalu, bagaiman konsumen menghindari 20% ini? Salahsatu triknya adalah dengan menggunakan jasa GrabExpress, pesan makanan, lalu minta bayari dulu. Konsumen hanya akan membayar jasa ongkir dari titik 1 ke titik 2, ye kan?

Nah, driver harus mengembalikan modus ini ke fitrah lahiriahnya: kalo pesen makanan ya GrabFood, bukan GrabExpress. Minta saja konsumen membatalkan order.

Dengan demikian, tidak ada yang akan terlukai.