Belasan tahun yang lalu, setiap tahun membuat laporan pajak. Semua karyawan diwajibkan melapor oleh perusahaan. Sekira tahun 2008 sampai 2014. Saat itu, saya tak punya kartu NPWP, yang ada hanya nomornya yang diprint di selembar kertas, mirip fotokopian ktp.

Tak punya kartu, bukan bearti tak punya NPWP. Pada saat itu, ktp saya masih domisili lama, sedang saya saat itu sudah di kota lain, tak bisa buat NPWP lokal, harus sesuai ktp. Begitulah peraturan waktu itu.

Jadi berkas saya kirim ke kantor pajak kota lama, namun tak pernah balik dalam bentuk kartu fisik NPWP.

Tapi, sekretaris kantor tidak kehabisan akal, ditanyakan identitas saya di kantor pajak lokal, dan dapat nomor NPWP.

Singkat cerita, setiap pelaporan pajak, saya selalu simpan semacam tandaterima, lengkap dengan nomor NPWPnya. Mirip fotokopian ktp.

Salinan ini saya simpan, walau sejak 2014 tidak melapor lagi. Awet sampai tahun 2020, masih saya simpan. Tak terpikir buat apa, wong biasanya kertas ini udah masuk kategori sampah. Tapi tak ada niatan mau membuang. Dan akhirnya, tahun 2020 diminta NPWP!

Bertahun-tahun buku ini saya rawat, seperti merawat kucing yang terbuang.

Bingung juga karena takpunya kartu fisiknya, tapi setelah menceritakan kronologi di kantor pajak suatu kota di Jawa Tengah, akhirnya bisa diterbitkan kartu NPWP dengan identitas belasan tahun yang lalu.

Itulah merawat takdir session pertama, tak tahu salinan tanda terima ini mau diapakan, tetep disimpan, akhirnya jawabannya belasan tahun kemudian.

Lalu, di tahun 2007, ketika saya bekerja sebagai analis lab kimia, saya menemukan buku tebal di tumpukan sampah. Batin tergerak untuk menyimpannya. Saya ambil, bawa pulang. Dan kemanapun saya pindah domisili, buku itu dipastikan saya bawa.

Buku itu adalah INFO LAB karya DR Soemanto Imam Khasani, Peneliti LIPI. Buku ini berisi tabel-tabel indikator, cara buat larutan dst.

Bertahun-tahun buku ini saya rawat, seperti merawat kucing yang terbuang.

Dan akhirnya, saat saya membuat aplikasi LIMS (Laboratory Information Management System dengan brand LABZ) buku ini menjadi salahsatu rujukan saya.

Aplikasi LABZ ini rumit, harus menguasai paling tidak tiga disiplin ilmu: Kimia, Programming, dan Statistika. Silakan lihat di sini.

Ketika membuat aplikasi ini, saya selalu melakukan riset, membaca jurnal, publikasi, menguji rumus dan membandingkan (verifikasi) dengan dokumen sumber, serta lain sebagainya.

Bukan sekedar aplikasi manajemen data biasa seperti kebanyakan anak IT bikin tugas akhir.

Begitulah merawat takdir dalam dua sesi. Dalam kehidupan Anda, bisa saja Anda mengalami hal seperti ini. Disitulah, kita merasa sangat bersyukur..