Melanjutkan kasus tertelannya kartu ATM BCA di jaringan ATM prima, ada kisah menarik yang belum basi saya ceritakan.

Begini.

Awal Agustus 2020, saya ke salahsatu cabang BCA untuk mengurus penggantian kartu dan mengganti simcard m-banking. Oleh satpam, saya diarahkan ke lantai dua untuk mengantri di customer service.

Dalam ruangan itu disediakan layanan cetak sendiri buku tabungan, termasuk penggantian buku.

Tinggal masukkan buku ke printer, lalu akses layar dan menyiapkan ektp. Dipandu navigasi pada layar, ektp ditempelkan pada RFID dan menempelkan sidik jari. Jadilah, buku tabungan terprint. Keren..

Lalu, saat antrian menghadap CS, saya menyelesaikan beberapa dokumen yang dimintunjukkan, untuk penggantian kartu dan simcard.

“Bapak sudah ke mesin penggantian kartu ATM di bawah”, kata CS cantik itu.

Oh, rupanya sudah biaa cetak ATM sendiri.

Diantarnyalah saya ke bawah, di mesin paling kiri, tepat depan pak satpam bertugas.

“Wah, keren ya, bisa cetak ATM sendiri kalo kehilangan”, kata saya.

“Bisa pak, semua bisa dilakukan mandiri oleh nasabah, kecuali hal-hal kecil yang perlu bantuan CS”, katanya dengan nada melemah.

Saya kejar dengan pertanyaan, “kalo semua dilakukan mesin, artinya peran manusia berkurang dong,” ujar saya sedikit diplomatis.

“Benar, pak. Dan orang-orang macam saya ini yang khawatir,” katanya.

Saya mengerti kekhawatiran yang dia maksud. Kalo semua dilakukan oleh mesin, maka yang tersisa bisa jadi hanya orang teknis dan satpam.

Bisa jadi, perannya tersingkirkan mesin.

“Ah, tapi mbak gak perlu sekhawatir itu. Perempuan enak, kalo gadis tinggal menikah. Kekhawatiran akan berganti, beda macam kami laki-laki ini,” Kata saya berusaha mencairkan suasana.

Itulah kekhawatiran yang sempat saya rekam dari satu titik. Masih banyak kekhawatiran – kekhawatiran lain yang tak sempat saya rekam, yang bisa jadi sejenis seperti kekhawatiran mbak pegawai tadi.

Tulisan ini hanyalah kebetulan yang saya dokumentasikan