Assalamualaikum Wr Wb
Pak Ustad,saya akan menikah setelah lebaran,apakah itu hari baik atau tidak baik. Maharnya saya meminta kepada calon suami sebuah cincin, kata teman saya bagus seperangkat alat Sholat, apakah ada hadits di balik Mahar itu?Mohon penjelasannya Pak,terima kasih.Wassalammuaalaikum Wr.Wb…
TARI, 082384729xxx


Wa’alaikumussalam
Pertama, dalam Islam tidak ada pembagian hari baik dan hari buruk, semua hari adalah baik, semua kembali kepada positif atau negative thinking kita, Allah berfirman dalam hadits qudsi: “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku tentang Aku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah juga berpesan, “luar biasa orang yang beriman itu, semua urusannya baik, dan ini tidak dimiliki kecuali orang yang beriman. Jika dia mendapatkan kebahagiaan dia bersyukur dan itu baik baginya, tetapi apabila dia mendapat musibah dia akan bersabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim).

Kedua, adapun mahar, tidak ada sama sekali anjuran mahar dengan sepe­rangkat alat shalat, bahkan Nabi Muhammad sendiri tidak pernah memberikan mahar dengan seperangkat alat shalat, Nabi dulu pernah memberi mahar dengan unta, dan perak. Jadi, se­perangkat alat shalat hanyalah kebiasaan kita di Indonesia saja, bukan anjuran dari Nabi secara langsung.

Abu Salamah menceritakan, “Aku pernah bertanya kepada Aisyah ra, “Berapakah mahar Nabi SAW untuk para istrinya?” Aisyah menjawab, “Mahar beliau untuk para istrinya adalah sebanyak 12 uqiyah dan satu nasy.” Lalu Aisyah bertanya, “Tahukah kamu, berapa satu uqiyah itu?” Aku menjawab, “tidak” A’isyah menjawab, “empat puluh dirham.” Aisyah bertanya, “Tahukah kamu, berapa satu nasy itu?” Aku menjawab, “tidak”. Aisyah menjawab, “Dua puluh dirham (dirham adalah mata uang dari perak)”. (HR. Muslim).

Mahar yang mahal sampai trilyunan rupiah juga tidak salah, sebab mahar yang mahalpun dibolehkan Allah, Allah berfirman, “dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, padahal kamu telah memberikan kepada seorang di antara mereka harta yang banyak.” (QS. An-Nisa : 20).

Cuma, Nabi pernah memberikan petunjuk bahwa mahar yang paling ideal adalah mahar yang tidak memberatkan calon suami. “sesungguhnya wanita yang baik itu adalah yang ringan maharnya, mudah menikahinya, dan baik budi pekertinya.” (HR. Ahmad, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban dalam shahihnya. Syaikh Al-Albani menganggap hadits ini hasan dalam Shahih Al-Jami’).

Jadi, mahar yang anda ajukan kepada calon suami anda tidak salah dan sah-sah saja, apalagi kalau mahar sebesar itu tidak memberatkan calon suami anda. Semoga pernikahan anda diberkahi Allah ta’ala.
Wallahu a’lam bish shawab.

#