Assalammu’alaikum Wr Wb
Pak Ustad, saat nikah saya sudah hamil. Saat anak saya sudah lahir, suami saya tak mau diajak nikah kembali. Alasannya belum pas tanggal, hari dan bulannya (hitungan Jawa) Apakah kami kumpul kebo? Wassalam

Rita, Sagulung


Wa’alaikumussalam Wr Wb
Terkait dengan pernikahan anda, tidak perlu nikah ulang. Nikah ulang itu hanya berlaku kalau akad nikahnya tidak sah, sementara akad nikah anda ketika anda sedang hamil sudah sah. Asal ketika akad nikah itu lengkap syarat dan rukun nikahnya dan anda berdua sudah bertaubat kepada Allah.

Dalilnya:

Pertama, para sahabat membolehkan pernikahan tersebut. Berkata Ibnu Umar : Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq sedang berada di masjid tiba-tiba datang seorang laki-laki, lalu Abu Bakar berkata kepada Umar, “Berdirilah dan perhatikanlah urusannya karena sesungguhnya dia mempunyai urusan (penting)” Lalu Umar berdiri menghampirinya, kemudian laki-laki itu menerangkan urusannya kepada Umar, “Sesungguhnya aku kedatangan seorang tamu, lalu dia berzina dengan anak perempuanku!?” Lalu Umar memukul dada orang tersebut dan berkata, “Semoga Allah memburukkanmu! Tidakkah engkau tutup saja (rahasia zina) atas anak perempuan itu!

Kemudian Abu Bakar memerintahkan agar dilaksanakan hukum had (didera sebanyak seratus kali) terha­dap keduanya (laki-laki dan perempuan yang berzina). Kemudian beliau menikahkan keduanya lalu beliau memerintahkan agar keduanya diasingkan selama satu tahun. [Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hazm di kitabnya Al-Muhalla juz 9 hal. 476 dan Imam Baihaqii di kitabnya Sunanul Kubro juz 8 hal. 223 dari jalan Ibnu Umar. Baihaqi meriwayatkan dari jalan yang lain bahwa perempuan tersebut hamil (9/476) lihat juga Mushannaf Abdurrazzaq (12796).

Kedua, pernikahan ketika hamil dalam kasus anda tidak sama dengan pernikahan ketika hamil dari pernikahan yang sah.

Orang yang bercerai dengan suaminya dari pernikahan yang sah ada iddahnya, ada kewajiban nafkah, tempat tinggal dan pakaian dari suaminya sampai melahirkan, sementara anda tidak ada yang begituan, karena itulah anda boleh-boleh saja menikah sekalipun sedang hamil. Adapaun mengenai hitung-hitungan penanggalan Jawa, tidak boleh anda percayai, kalau anda percayai anda berdua bisa menjadi syirik.
Mempercayai hitung-hitungan Jawa, ini tanggal baik ini tanggal buruk membuat kita berputus asa dari rahmat Allah, kalau sudah dianggap tanggal sial, kita tidak berani melakukan niat kita, gara-gara tanggal yang tidak tepat, Allah berfirman, “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Yusuf: 87).

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, bahwa ada seorang lelaki yang berkata: “Wahai Rasulullah, apa itu dosa besar?” Rasulullah saw. menjawab (artinya), ‘Syirik kepada Allah, pesimis terhadap karunia Allah, dan berputus asa dari rahmat Allah’.” (HR Al-Bazzar, Thabrani dan ‘Abdurrazaq).

Wallahu a’lam bis shawab

#