Assalamualaikum wr wb
Pak Ustad saya dipercaya sebagai seorang amil zakat, saya bertugas mendata dan menyalurkan zakat-zakat yang terkumpul kepada si penerima. Nah pada saat mendata saya memasukkan nama-nama fiktif sebagai penerima zakat. Uangnya saya gunakan untuk membayar hutang saya. Tak sepeserpun saya makan. Apakah saya salah?
Wassalam, Amil Zakat


Wa’alaikumus salam Wr Wb.

Pertama, apa yang anda lakukan termasuk perbuatan dosa, karena anda mengkhianati amanah yang dititipkan pada anda, Rasulullah bersabda, Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika dipercaya (diberi amanat) dia berkhianat.” (HR. Bukhari Muslim).

Kedua, oleh karena itu anda wajib segera bertaubat atas perbuatan tersebut, dan salah satu dari bentuk taubat itu adalah anda harus jelaskan semuanya ini kepada yang memberi amanah dan mengganti uang tersebut, sesuai kemampuan anda.

Ketiga, uang zakat yang anda pakai buat bayar hutang pada dasarnya adalah anda pakai demi kepentingan anda pribadi, sekalipun tidak anda gunakan dalam bentuk konsumsi langsung misalnya, tetapi tetap saja yang menikmati uang tersebut hanya anda sendiri, padahal uang itu bukan uang anda tapi uang mustahik zakat.

Keempat, kalau anda mau jujur kepada pihak panitian zakat (amil), bahwa anda punya hutang yang memang untuk memenuhi makan anda sehari-hari, maka anda secara hukum juga berhak mendapat bagian (walaupun tidak banyak) dari harta zakat, tetapi bukan main potong sendiri seperti yang anda lakukan sekarang.

Allah berfirman, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS At Taubah : 60).

Wallahu a’lam bish shawab.

#