Ass Wr Wb. Pak ustad, saya  mohon penjelasan. Apa hukumnya suami-istri yang tinggal satu rumah tapi pisah ranjang sudah tiga tahun, dan tanpa dinafkahi oleh suami. Tapi, suami makan hasil kerja istri. Salahkah istri menggugat cerai suaminya itu?  Terimakasih.
pengirim 0852645669xx
Wa’alaikumus salam Wr Wb.

Pertama, selama 3 tahun suami tidak pernah menceraikan istrinya, atau istrinya juga tidak pernah menuntut cerai. Maka, hukumnya keduanya masih tetap pasangan suami istri yang sah. Baru bisa dikatakan bercerai apabila suaminya mengatakan cerai kepada istrinya, atau istrinya menuntut cerai dan disetujui oleh suaminya.
Kedua, Allah dan Rasul-Nya mewajibkan suami untuk menafkahi istrinya sesuai dengan batas maksimal kemampuan sang suami.
Kalau suaminya mampu bekerja, tetapi tidak mau menafkahi istrinya maka suaminya berdosa, tetapi kalau suaminya sudah berusaha semaksimal mungkin menafkahi istrinya, namun tetap saja masih kurang, atau bahkan tidak mampu sama sekali karena sakit misalnya, maka suaminya tidak berdosa. Allah berfirman, “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. At-Thalaq : 7).
Ketiga, suami yang tidak menafkahi istrinya baik lahir maupun batin (kalau memang sebuah kesengajaan ingin menzalimi istrinya) maka suaminya berdosa dan sudah masuk berbuat nusyuz (durhaka) kepada istrinya.
Allah berfirman, “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, Maka tidak Mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa : 127).
Menyikapi nusyuznya suami, pertama yang harus dilakukan istri (berdasarkan ayat tersebut) adalah menasehatinya dan mengajak suami berdamai, menghentikan permusuhan dalam rumah tangga, dan kembali melaksanakan kewajibannya sebagai suami. Kalau pilihan pertama ini tidak dilakukan suami, maka pilihan kedua adalah, menuntut cerai, dan istri tidak berdosa menuntut cerai kepada suami yang tidak lagi menjalankan kewajibannya. Menuntut cerainya bisa dilakukan di Pengadilan Agama.
Selama sang istri tidak menuntut cerai, maka selama itu mereka tetap pasangan suami istri, dan suami terus menerus dalam dosa.
Wallahu a’lam.