Assalamualaikum WR WB pak ustad. Saya masih bingung dengan banyaknya pernyataan orang tentang hukum mengucapkan hari raya atau hari besar agama lain kepada teman yang beragama berbeda dengan kita dalam Islam. Ada yang bila, tidak boleh ada yang bilang , tidak masalah. Sebenarnya apa hukumnya dalam agama Islam pak ustad. Terimakasih. Wassalam.
 
Pengirim Azis, Batam: 081321513XXX
Wa ‘alaikumussalam Wr Wb.
Terjadi perbedaan pendapat antar ulama:
Pendapat pertama, haram hukumnya, karena dianggap mengakui dan meridhai kesesatan ajaran mereka, berdasarkan firman Allah, “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau Saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al-Mujadilah : 22).
Karena Allah tidak ridha pada agama mereka dan perayaan mereka, maka seorang muslim pun tidak boleh juga ridha dan menyetujui keyakinan mereka, Allah berfirman, “Jika kamu kafir Maka Sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya.” (QS. Az-Zumar : 7).
Pendapat kedua, hukumnya boleh, dengan syarat: bukan kafir harbi (orang kafir yang memerangi Islam) dan , kalimat-kalimat yang digunakan dalam pemberian selamat ini pun harus yang tidak mengandung pengukuhan atas agama mereka atau ridho dengannya, cukup menggunakan bahasa-bahasa  pertemanan yang sudah dikenal dimasyarakat, dan tidak menampilkan simbol mereka,dalilnya:
Allah berfirman, “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An Nisaa : 86).
Allah juga berfirman, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah : 8).
Kebolehan ini lebih-lebih lagi dibolehkan bagi ummat Islam yang jumlahnya minoritas dan berada ditengah komunitas non muslim, atau seperti pekerja/bawahan/karyawan yang majikannya non muslim, tentu diberikan keringan sebatas itu saja.
Wallahu A’lam bish shawab.