Perkenalan dengan Cak Sot, alias Markesot, secara tak sengaja. Ketika baru kelas dua SMP, saya menjadi petugas jaga stan bazzar buku sekolah. Sosok Markesot hadir dalam buku tebal, yang tak cocok untuk anak SMP yang hobi cerita bergambar dan alur cerita penuh kebahagiaan.

Tapi, cara Mbah Nun menyajikan Markesot, sungguh menarik perhatian. Deskripsi Markesot secara detail, seolah dia ada di sekitar kita. Berikut riuh rendahnya dialog yang ada di tiap halaman.

***

Markesot ini unik. Secara strata sosial, dia cukup mewakili kaum yang terpinggirkan. Dari segi tampang pun, wajahnya kurang meyakinkan. Namun, ketika bicara, ada saja kekuatan di setiap tutur yang disampaikan.

Markesot dianggap sebagai orang yang kaku dan mungkin sedikit terbelakang. Hal tersebut tak lain karena Markesot jarang memakai baju baru, termasuk ketika hari raya.

Dalam situasi tersebut, Markesot hanya tersenyum dan berpikir untuk mencari kekuatan yang ada dalam dirinya dengan harapan cara pandangnya tersebut bisa diterima oleh orang lain dan mereka dapat memaklumi sikap yang ditunjukkan Markesot.

Terkait dengan sindiran orang di sekitar Markesot yang mengatakan bahwa Markesot hanya memakai baju “yang itu-itu saja”, Markesot mencoba untuk mencari kekuatan di balik cara pandangnya.

Pertama, “Bajuku tidak perlu baru, tetapi caraku memandang, menilai, dan memperlakukan baju Insya Allah baru. Kedua, baju saya tetap baju yang kemarin-kemarin, karena kamu tidak pernah punya inisiatif untuk membelikan saya baju”

***

Menurut Wahyu Nanda Eka Saputra, dkk. (2019), ada empat bentuk pola yang ditularkan oleh Markesot.:

Pertama, berpikir untuk memaafkan kesalahan orang lain, yaitu
jika saya disakiti, maka saya akan memaafkan.

Markesot diremehkan tidak sekali saja. Markesot juga pernah diremehkan ketika diberi kesempatan untuk membaca ayat suci Al-Quran. Dalam kesempatan tersebut, Markesot banyak diragukan dan ditertawakan orang lain, bahkan banyak yang sulit membayangkan bagaimana bentuk dan praktiknya Markesot melantunkan ayat suci Al-Quran.

Akan tetapi Markesot hanya diam dan mampu membaca Al-Quran dengan baik serta membuat hadirin yang semula kemriyek seperti pasar, mendadak terdiam. Bahkan beberapa ibu-ibu menangis dan yang lainnya memilih menundukkan muka.

Hal ini menunjukkan bahwa Markesot lebih memilih untuk memaafkan orang yang menghinanya dan menampilkan dirinya dengan sebaik mungkin daripada harus banyak berurusan dengan orang yang meremehkannya.

Selain diremehkan, Markesot juga sering di-embel-embeli gelar yang kurang menyenangkan, tetapi hal ini tidak berlaku bagi Markesot yang berupaya untuk tetap tersenyum dan memberikan maaf apabila Markesot diberikan label negatif sekalipun.

Hal ini terjadi pada Markesot ketika ia diberi label sebagai “dukun global” atau “dukun era globalisasi” oleh Markembloh. Label tersebut tentunya label yang tidak disukai dan tidak diinginkan oleh Markesot.

Mendapat label tersebut Markesot hanya tersenyum sesaat, kemudian wajahnya kembali dingin dan angker. Hal itu menandakan Markesot tidak ingin mencari permusuhan yang berlebihan dan memilih untuk memaafkan Markembloh.

Kedua, Markesot mengajarkan berpikir untuk menemukan kekuatan diri daripada menyalahkan diri sendiri, yaitu
“jika saya dilihat dari sisi negatif saya, maka saya akan mencari sisi positif saya.”

Ketiga, diajarkan juga untuk meregulasi emosi diri, yaitu
“jika saya tersakiti, maka saya akan berdamai dengan diri saya agar tidak terlampiaskan pada orang lain.”

Keempat, juga berpikir untuk meregulasi perilaku diri, yaitu
“saya akan berdaulat pada diri saya sendiri untuk tidak menunjukkan perilaku menyakitkan bagi orang lain”.

***

Membaca buku ‘MARKESOT BERTUTUR LAGI” ini menyenangkan, seolah pembaca akan dibawa pergi ke alam lain: alam idealis para mbangbung, kaum miskin bermartabat.