Masih tentang Markesot, sang Guru Imajiner. Dalam suasana kali ini, dia lagi sampai di puncak kearifan. Sehabis sholat isya berjamaah, dia berbicara kepada circle-nya, dengan pertanyaan enteng berbuntut serius.

“Apa yang dilakukan oleh penjual kacang itu?”

Menjual kacang…,” jawab seorang pemuda.

“Ya. Apa itu?”

“Mencari nafkah….”

“Bagus. Kapan saja dia mencari nafkah?”

“Tiap malam….”

“Berapa lama tiap malam ia mencari nafkah?”

“Hampir sepanjang malam?”

“Ke mana saja ia sepanjang malam?”

“Keliling kampung-kampung….”

“Untuk siapa Ia mencari nafkah?”

“Untuk anak-istrinya….”

Kakek Manaf Penjual Kacang Rebus (by Street Foods Village)
Kakek Manaf Penjual Kacang Rebus (by Youtube: Street Foods Village)

“Nah, Untuk anak-istrinya…,” Kemudian kata-kata Markesot tumpah seperti banjir bandang, “Mencari nafkah untuk anak-istri, berjalan menelusuri gang-gang kampung demi kampung. Siapakah diantara kalian yang mau melakukan hal seperti itu?”

Tak ada suara.

“Kalian semua ingin jadi orang besar. Ingin jadi pejabat atau setidaknya pegawai. Kalian semua ingin mencari uang dengan cara yang segampang-gampangnya untuk memperoleh hasil sebanyak-banyaknya. Kalian dengan sengaja mencari tempat yang kalian tahu akan menjebak kalian untuk melakukan korupsi-korupsi….

Penjual kacang itu pergi berjualan justru ketika malam tiba. Justru ketika orang berangkat beristirahat dan berangkat tidur. Ia berjualan, dengan kaki tertatih-tatih, karena ia memiliki tawakal dan takwa yang sangat tinggi terhadap kebaikan Allah. Ia sangat percaya Allah Mahaadil, sehingga dipilihnya pekerjaan yang setiap dari kalian membayangkan pun tak mau. Ia adalah manusia yang mulia di hadapan Allah

“Kalian pandanglah wajah penjual kacang itu.
Kalau dia maling, tak akan mau Ia repot-repot semalam-malaman keliling kampung. Ia berjualan kacang karena Ia ingin makan dan memakani mulut anak-istrinya dengan keringatnya sendiri. Kalian pikirkanlah, apakah yang kalian makan dan minum selama ini adalah hasil keringat yang sah dari orangtua kalian.

“Kalian renungkanlah siapa manusia yang lebih mulia dibanding orang yang hanya bersedia memakan hasil keringatnya sendiri, dan untuk itu ia bersedia berpayah-payah berjualan sepanjang malam meskipun hanya akan memperoleh hasil tiga atau empat ribu rupiah?”

“Penjual kacang itu pergi berjualan justru ketika malam tiba. Justru ketika orang berangkat beristirahat dan berangkat tidur. Ia berjualan, dengan kaki tertatih-tatih, karena ia memiliki tawakal dan takwa yang sangat tinggi terhadap kebaikan Allah. Ia sangat percaya Allah Mahaadil, sehingga dipilihnya pekerjaan yang setiap dari kalian membayangkan pun tak mau. Ia adalah manusia yang mulia di hadapan Allah.”

“Pernahkah kalian bercita-cita memperoleh kemuliaan seperti itu? Yang lebih kalian cari bukanlah kebaikan, melainkan kekayaan. Yang lebih kalian buru bukanlah keluhuran, melainkan keenakan, kenyamanan; dan pada posisi seperti itu kalian selalu merasa lebih tinggi derajat kalian dibanding orang-orang kecil yang berjualan bakso, martabak, sate….

“Lihatlah penjual kacang itu: Kenapa ia tak sakit rematik? Berapa kali ia masuk angin oleh angin malam? Kenapa ia jauh lebih sehat dibanding famili-famili kalian yang kaya-kaya, yang macam-macam saja penyakitnya dan berplastik-plastik obatnya.

“Anak-anakku, renungkan. Coba mulai hitunglah kehidupan di sekitarmu. Hitung pulalah dirimu sendiri. Temukanlah kemuliaan di sekitarmu. Belajarlah membedakan mana kemuliaan dan mana kehinaan. Amatilah mana orang yang luhur, mana orang yang hina. Mana orang yang tinggi derajatnya dan mana yang rendah. Pakailah mata Allah sebagai ukuran….”

Suasana makin hening.

Tak biasanya Markesot berceramah. Malam ini entah apa yang ‘melewati’-nya.

Markesot Bertutur tentang Sikap Hidup (Bag. 6), Karya Emha Ainun Nadjib