Suatu waktu, saya tinggal di suatu daerah yang lumayan susah kendaraanya. Saat itu terpikir untuk membeli motor. Kebetulan ada uang.

Berangkatlah saya menuju lokasi dealer berdasarkan peta. Lumayan jauh, dua kali naik angkot. Itu pun tidak setiap menit ada. Jangan bayangkan seperti angkot kota besar.

Sampai di dealer, disambut hangat oleh sales counter, menanyakan apa yang saya minati. Ditawarkan ini itu, sampai ‘Bapak mau cash apa kredit? ‘, tanya CS.

Saya mau cash.

‘Kenapa ga kredit aja? ‘, susulnya. Saya bilang, ‘saya akan susah tidur jika kredit’.

Disepakatilah motor yang saya mau, buka ibanking, transfer, selesai.

Begitu sampai di rumah, tetangga datang. ‘Beli cash apa kredit’, seru tetangga.

Saya bilang, ‘cash, pak’.

‘Kok bisa? ‘, tanyanya aneh.

Saya kaget ditanya begitu, seolah-olah gitu loh. ‘Biasanya dipersulit kalo cash’, kata dia.

Ya nggak tau, seperti itulah tiga tetangga saling mengiyakan. Kalo cash biasanya dipersulit, dalam bahasa mereka. Sebab dealer lebih untung kalo harga gak mepet price list.

Masuk akal sih, tapi ga sampe ada istilah dipersulit, menurut saya. Paling, kurang bonus aja.

Kalo kredit, dapat helm dan jaket. Kalo cash hanya helm saja.

Dan… Kebetulan helmnya habis kata dealer. Hmmm.. Bukannya setiap pengiriman dari pabrik, disertakan helm. Liataja truk motor itu, biasanya ada kelengkapan berupa kotak, yang isinya helm.

Dan pada saat motor diantar, ada satu motor diatas pengangkut, disertai kotak tadi.

Tapi ya sudahlah, helm menyusul. Ok sip.

Kenapa Gak Mau Kredit?

Saya punya pengalaman pahit ketika mau kredit/riba. Baru mau ambil kredit, selalu dihantam musibah.

Pengalaman orang bisa saja beda. Tapi inilah yang terjadi.

Tahun 2012, ada kemudahan dari bank, untuk ambil kredit tanpa agunan, program kerjasama kantor dan bank. Sebelum wawancara dan tandatangan, saya kena musibah sakit keras, nyaris mati.

Lalu, 2016, saya rencana ambil KPR, uang muka masuk, tapi perumahan yang dipesan dihantam banjir bandang.

Dan, 2019, akan melanjutkan KPR, perusahaan tempat saya kerja tutup.

Begitulah pengalaman saya. Tidak setiap orang sama.

Bisa jadi, anda yang membaca tulisan ini, lancar-lancar saja. Selesai kredit ini, lanjut ke kredit itu. Isi rumah penuh, garasi menyempit.

“Kalo ga nyicil, kapan bisa punya?! ” Begitu kira-kira.

Tapi saya serahkan semua kepada Yangmaha Kuasa. Kumaha Alloh we..

Iklan: bantulah saya menghindari riba dengan project layak bayar / bayaran layak kepada saya, hehe..