Ilustrasi Suap.  (tabloidjubi.com)

Ilustrasi Suap. (tabloidjubi.com)

Ass. ustad saya mau tanya , ketika saya mau masuk sekolah menengah pertama (SMP) ,orang tua saya menyuap pihak sekolah supaya saya bisa masuk ke sekolah tersebut, namun ketika akan masuk ke SMA kemudian kuliah dan dapat pekerjaan, alhamdulullah saya tidak melakukan pekerjaan (suap) tersebut.

Yang saya tanyakan apakah uang dari hasil pekerjaan saya tersebut halal atau haram ? sekian terimakasih

yudo
ysumbono@*****.**.**
(ditanyakan lewat form komentar)


Walaikum salam warahmatullohi Wa Barokatuh

Hukum suap pada dasarnya haram, dalilnya: diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam melaknat orang yang memberi suap dan yang menerima suap”.

Dalil dari Hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, diantaranya:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِى وَالْمُرْتَشِى فِى الْحُكْمِ.

Dari Abu Hurairah radliyallahu ’anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melaknat orang yang menyuap dan yang disuap dalam masalah hukum.” (HR. Ahmad II/387 no.9019, At-Tirmidzi III/622 no.1387, Ibnu Hibban XI/467 no.5076. Dan dinyatakan Shohih oleh syaikh Al-Albani di dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib II/261 no.2212).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ.

Dan diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam melaknat orang yang memberi suap dan yang menerima suap”. (HR. Abu Daud II/324 no.3580, At-Tirmidzi III/623 no.1337, Ibnu Majah, 2313 dan Hakim, 4/102-103; dan Ahmad II/164 no.6532, II/190 no.6778. Dan dinyatakan Shohih oleh syaikh Al-Albani di dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib II/261 no.2211).

عن ثوبان قال : لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ وَالرَّائِشَ يَعْنِي الَّذِي يَمْشِي بَيْنَهُمَا

Dan diriwayatkan dari Tsauban radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melaknat pemberi suap, penerima suap, dan perantaranya.” (HR. Ahmad V/279 no.22452. namun sanad hadits ini dinyatakan Dho’if (lemah) oleh syaikh Al-Albani di dalam Dho’if At-Targhib wa At-Tarhib II/41 no.1344).

Dalil Ijma’

Para ulama telah sepakat secara ijma’ akan haramnya suap menyuap secara umum, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qudamah, Ibnul Atsir, dan Ash-Shan’ani, semoga Allah merahmati mereka semua. (Lihat Al-MughniXI/437, An-Nihayah II/226, dan Subulussalam I/216).

Imam Al-Qurthubi rahimahullah di dalam kitab Tafsirnya mengatakan bahwa para ulama telah sepakat akan keharamannya. (Lihat Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an VI/119).

Imam Ash-Shan’ani mengatakan, “Dan suap-menyuap itu haram berdasarkanIjma’, baik bagi seorang qodhi (hakim), bagi para pekerja yang menangani shadaqah atau selainnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”(QS. Al-Baqarah: 188). (Lihat Subulus Salam II/24).

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam mengatakan, “Suap menyuap termasuk dosa besar karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap, sedangkan laknat tidaklah terjadi kecuali pada dosa-dosa besar. ” (Lihat Taudhihul Ahkam VII/119).

Kapan Suap Menjadi HALAL?
Tetapi berubah jadi halal, kalau mengambil hak, artinya posisi kita terzalimi, misalnya: masjid kita dpt bantuan pemerintah, tapi bantuan pemerintah bakal cair, kalo ngasih pelicin ke petugas, sogokan demikian jd halal.

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Tentang memberikan uang suap, jika seorang itu menyuap hakim agar hakim memenangkan perkaranya padahal dia bersalah atau agar hakim tidak memberikan keputusan yang sejalan dengan realita, maka memberi suap hukumnya HARAM. Sedangkan suap dengan tujuan agar mendapatkan hak, hukumnya tidaklah haram (halal) sebagaimana uang tebusan untuk menebus tawanan.” (Lihat Raudhatu Ath-Thalibin wa Umdatu Al-Muftin IV/131).

Singkatnya
==========

1. Kalau sogokan untuk mengambil haknya (misalkan dengan seleksi nilai dia seharusnya lolos, tapi malah dibuat tak lolos-red), sogokan tersebu halal, penerima sogokan saja yg berdosa.

2. Kalau sogokan untuk mengambil yang bukan haknya, atau mengalahkan peserta lain yg punya peluang sama (curang), maka pemberi dan penerima sogokan sama-sama berdosa.

Lalu setelah jadi pegawai, bagaimana dengan kehalalan gajinya?

Pertama, hendaklah pegawai tersebut bertaubat dari dosa risywah.

Kedua, adapun halal atau tidak gajinya, INGAT gajinya itu berkaitan dengan hasil pekerjaannya, bukan dengan penerimaannya sebagi pegawai:

a) Kalau bekerja benar, sesuai dengan tupoksinya, dan amanah dlm pekerjaannya, maka gaji tersebut halal.
b) kalau tidak mampu bekerja dengan benar sesuai dengan tupoksinya, dan tidak amanah, maka gaji yg diterima hukumnya haram.

Rujukan tambahan

حكم راتب من حصل على وظيفة بالرشوة – إسلام ويب – مركز الفتوى

Wallahu a’lam.