Nama Dinda. Alamat Batuaji. Assalammualaikum wr.wb Pak Ustad, kenapa ya hati ini sulit sekali mengikhlaskannya. Pak selama ini saya yg mengurus perkebunan Alm ayah saya. Hasil perkebunannya saya sedekahkan. Di hati saya pernah berjanji ingin mewakafkan perkebunan itu. Tapi sekarang perkebunan itu diambil abang saya tanpa ngomong sama saya. Hubungan abang sama saya memang kurang baik.

Pak ustad, apakah saya berdosa karna tak bisa mewakafkan tanah itu untuk Alm orang tua saya. Pak ustad saya coba untuk ikhlas tanah itu diambil abang saya. Tapi saya tak bisa bohong diri saya sendiri kalau saya berat menerima kenyataan ini. Orang terdekat saya dan saudara selalu bilang iklas kan lah. Pak ustad berikan lah nasehat yang terbaik buat saya. Wassalammualaikum Wr.Wb.

085226361xxx


Wa’alaikumussalam

Pertama, istilah ikhlas dalam masalah ini kurang pas, karena ikhlas itu artinya beribadah semata-mata karena Allah, istilah yang tepat adalah bersabar atau ridha, karena ini adalah ujian bagi anda.

Kedua, seharusnya didudukkan dulu status perkebunan tersebut, milik siapakah sebenarnya? Dan kalau perkebunan tersebut dulunya punya alm. Ayah anda, berarti statusnya kebun tersebut adalah tanah warisan. Dan Islam sudah mengatur aturan pembagian warisan, saran saya selesaikanlah pembagian warisan orang tua sesuai dengan syariah Allah.

Andapun tidak bisa mewakafan tanah tersebut, kalau tanah tersebut belum jelas kepemilikannya, apakah milik anda, milik abang anda, atau milik bersama. Maka, selesaikan dulu baik-baik secara agama.

Ketiga, kalau ternyata itu kebun memang hak milik anda, anda bisa ngomong baik-baik dengan abang anda, tunjukkan bukti kepemilikan dan bukti lainnya. Namun kalau ternyata abang anda juga ngotot ingin memilikinya, sebaiknya dibicarakan baik-baik secara kekeluargaan dan kedepankan persaudaraan yang jauh lebih mahal dibanding sebidang tanah tersebut.

Keempat, perasaan hati tidak ridha, tidak terima dan sakit atas perlakuan abang yang tidak menyenangkan, itu manusiawi, tetapi secara lahiriyah tampilkanlah wajah yang manis dan persaudaraan kepada abang anda, dan berikanlah maaf, sebab Allah menjanjikan surga yang seluas langit dan bumi bagi orang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, lebih-lebih lagi kesalahan itu dari saudara kandung anda sendiri (QS. Ali Imran : 133-134).

Wallahu a’lam bish shawab.