Ilustrasi Brewok @dobbyf

Ilustrasi Brewok @dobbyf

Assalammu’alaikum Wr.Wb

pak ustad saya mau tanya apa hukum nya menikahi seorang wanita yang tidak perawan lagi. . . ? Dan selama saya menikah.istri saya tidak pernah patuh dengan ke inginan saya. Saya merasa kurang bahagia.apa kah harus meceraikan nya dan cari pengganti nya. . . ?
Si Han, Tanjungsengkuang


Wa’alaikumussalam
Menikahi perempuan yang sudah tidak perawan lagi sah-sah saja, ketika anda menikahinya terpenuhi syarat dan rukun nikah, seperti adanya wali, dua saksi laki-laki muslim, adanya ijab dan kabul, dan ada maharnya. Karena Rasulullah sendiri bahkan menikah dengan banyak istri yang sudah tidak gadis lagi seperti Khadjah, Saudah, Hafshah, Ummu Salamah, dan lain-lain. Hanya Aisyah satu-satunya istri Nabi yang dinikahi dalam keadaan gadis.

Adapun istri yang tidak mematuhi seluruh keinginan suami tidak boleh hitam putih, tetapi perlu dilihat apa perintah tersebut dan kondisi ketika itu.

a) kalau perintah tersebut bertentangan dengan syariah, istri tidak boleh patuh, Rasulullah bersabda, “tidak ada ke­taatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq (Allah).”tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu dalam perkara yang baik (ma’ruf).” (HR. Bukhari dan Muslim).

b) suami menyuruh istri yang sedang dalam keadaan tidak memungkinkan melakukan perintah suami, maka istri tidak bisa disalahkan, misalnya sedang sakit disuruh belanja ke pasar.

c) atau istri tidak paham, tidak kuat, sudah capek, dan lain-lainnya yang intinya tidak mampu melakukannya maka istri tidak bisaa persalahkan dan suami seharusnya memaklumi ketidakmampuan istri.


TETAPI
kalau yang diperintahkan suami adalah perkara yang baik, dan istripun sanggup melakukannya tetapi tidak mau melakukannya, perlu dilihat:

a) kalau sekali-kali, berarti masih bisa dimaklumi, namanya juga manusia yang kadang lagi mood kadang tidak.

b) kalau sudah berulang-ulang, sudah dinasehati, sudah diajak pisah ranjang, sudah diberikan sanksi (pukulan yang tidak menyakitkan), bahkan sudah meloibatkan keluarga keduabelah pihak, maka keputusan ada ditangan suami, mau cerai atau lanjut.

Tetapi, kalau proses-proses yang saya sebutkan tadi belum ditempuh sama sekali oleh anda, anda belum pernah menasehati nya misalnya, blm pernah pisah ranjang, bahkan keluarga belum pernah diajak duduk bersama, maka jauhkanlah dulu pilihan bercerai, upayakan dulu usaha-usaha tadi.

Wallahu A’lam bish Shawab.