Assalamu’alaikum Wr. Wb
Pak Ustad, saya mau tanya. Saya hamil duluan sebelum menikah, apakah anak kami itu anak haram?Wassalam
Cinta, Baloi


Wa’alaikumussalam Wr Wb

Pada dasarnya semua madzhab yang empat (Madzhab Hanafi, Malikiy, Syafi’i dan Hambali) telah sepakat bahwa anak hasil zina itu tidak memiliki nasab dari pihak laki-laki, dalam arti dia itu tidak memiliki bapak kandung, meskipun laki-laki yang menzinahinya dan yang menaburkan benih itu mengaku bahwa dia itu anaknya. Pengakuan ini tidak dianggap, karena anak tersebut hasil hubungan di luar nikah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah, “Anak itu bagi (pemilik) kasur dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun, sebagian ulama seperti Imam Abu Hanifah, Ishaq bin Rahawaih, Urwah dan Sulaiman bin Yasar (www.islamweb.net), mengatakan bahwa anak tersebut menjadi anak yang sah bagi ayahnya, selagi yang menikahinya adalah lelaki yang menghamilinya dan kelahirannya di atas usia 6 bulan dari akad nikah.

Namun dalam Kompilasi Hukum Islam dengan instruksi presiden RI no. 1 tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991, yang pelaksanaannya diatur sesuai dengan keputusan Menteri Agama RI no. 154 tahun 1991, dinyatakan bahwa pernikahan model anda ini sah, dan anak anda hasil dari hubungan zina juga sah menjadi anak kandung.

Dalam kasus anda, bila anda selama ini meyakini bahwa pernikahan ini sah, baik karena taqlid kepada orang yang memboleh-kannya (Depag) atau anda tidak mengetahui bahwa pernikahan ini tidak sah, maka status anak yang terlahir akibat pernikahan ini adalah anak sah dan boleh dinasabkan kepada anda (ber-bin kepada anda).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Barangsiapa menggauli wanita dengan keadaan yang dia yakini pernikahan (yang sah), maka nasab (anak) diikutkan kepadanya, dan dengannya berkaitanlah masalah mushaharah (kekerabatan) dengan kesepakatan ulama sesuai yang saya ketahui, meskipun pada hakikatnya pernikahan itu batil di hadapan Allah dan Rasul-Nya, dan begitu juga setiap hubungan badan yang dia yakini tidak haram padahal sebenarnya haram, (maka nasabnya tetap diikutkan kepadanya).” (Dinukil dari nukilan al-Bassam dalam Taudhihul Ahkam 5/104).

Wallahu a’lam bis shawab

Baca Juga: Anak Adopsi Bin/Binti-nya Kepada Siapa?

#

#