Awalnya, saya adalah orangtua idealis yang mengikuti teori baku psikologi anak. Ketika anak saya masih berusia 4-6 tahun, saya mewanti-wanti agar anak saya jangan dipaksakan belajar membaca menulis dan berhitung. Takut kena  ‘Mental Hectic‘ kata saya waktu itu.


Dan pada artikel di link ini,  yang mempengaruhi keputusan saya untuk tidak memaksakan calistung, di usia dini mereka.

Tapi, ketika anak saya masuk SD, saya terkejut. Dengan kurikulum 2013 yang katanya ‘wah’ itu, anak saya keteteran. Dalam pelajarannya, anak saya diharuskan bisa membaca menulis dan berhitung. Padahal, saya berharap anak diajari dulu mengeja, menulis, dan menuliskan apa yang dibacakan.

Sebagai contoh, pada tematik 1, ada soal, seperti in:
Biar badan bersih, maka harus…

untuk pertanyaan itu, jika hanya diujikan lisan, anak saya sudah pasti bisa menjawab “mandi”.

tapi, jika dikasih soal sementah itu, boro-boro anak saya bisa jawab, membaca apa yang disoalkan pun tak bisa (karena belum bisa baca). Bagaimana si anak bisa mengerti apa yang ditanyakan, sedangkan soal yang diajukan belum bisa dia baca. Bagaimana anak bisa menulis jawaban, sedangkan menuliskan apa yang ada dipikirannya pun belum bisa. Sebab, anak saya belum bisa membaca (karena takut kena mental hectic itu).

PADAHAL, TUGAS GURU KELAS SATU MENGAJARI ANAK MENGEJA, MEMBACA, MENULIS DAN BERHITUNG. BUKAN LANGSUNG JADI PRETTTTT..

Akhirnya, guru kelas memanggil saya, katanya anak saya ‘payah’. Busyet, gini-gini saya ngerti psikologi anak cerdas. Apa hanya belum bisa membaca lalu guru SD kelas satu bilang anak saya payah?

Anak usia di bawah lima tahun (balita) sebaiknya tak buru-buru diajarkan baca tulis dan hitung (calistung). Jika dipaksa calistung si anak akan terkena ‘Mental Hectic’.
”Penyakit itu akan merasuki anak tersebut di saat kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar (SD). Oleh karena itu jangan bangga bagi Anda atau siapa saja yang memiliki anak usia dua atau tiga tahun sudah bisa membaca dan menulis,” ujar Sudjarwo, Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ditjen PNFI Kemendiknas, Sabtu (17/7).

kutipan di atas seharusnya jadi patokan untuk pembuat kurikulum SD kelas I tahun 2013, jadi orang tua seperti saya tidak bingung dan salah langkah. Harusnya antara Ditjen dan kenyataan kurikulum harus klop, bukan malah bertolakbelakang.

Dan, apa yang diungkap Ditjen Paud itu hanyalah basa-basi saja.

Jadi, saya sarankan, jangan dengar kata Ditjen PAUD itu, buatlah anak anda selancar mungkin membaca-menulis dan berhitung sebelun masuk SD. Titik.