Assalamualikum pak ustad. Mau bertanya soal hukum menggugurkan kandungan dalam Islam. Apa hukumnya kita menggugurkan kandungan, tapi dengan berbagai alasan dan pertimbangan tertntu. Semisal, karena masalah psikologi, karena masih trauma dengan kehamilan sebelumnya, atau masalah pertimbangan keuangan dan berbagai masalah perekonomian. Apakah ada aturannya, diusia kandungan keberapa yang diperbolehkan untuk menggugurkankandungan tersebut. Terimakasih atas penjelasannya. Wasaslam.
 
Pengirim Eni, Batam. 085668211XXX
Wa’alaikumus salam Wr Wb..
Hukum menggugurkan kandungan terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama, mayoritas Syafi’I, Hanafi dan Hambali membolehkan selagi dibawah 4 bulan (120 hari). Imam al-Ramli dalam Nihayah al-Muhtaj (8/443) mengatakan, “pendapat yang paling kuat haram aborsi setelah ditiup ruh secara mutlak, dan boleh hukumnya sebelum ditup ruh.” Sementara kalangan Maliki, sebagian Syafi’I, sebagian Hanafi dan sebagian Hambali mengatakan tidak boleh sama sekali.
Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 4 Tahun 2005, tentang Aborsi menetapkan ketentuan hukum Aborsi sebagai berikut;
Pertama. Aborsi haram hukumnya sejak terjadinya implantasi blastosis pada dinding rahim ibu (nidasi).
Kedua. Aborsi dibolehkan karena adanya uzur, baik yang bersifat darurat ataupun hajat. Darurat adalah suatu keadaan di mana seseorang apabila tidak melakukan sesuatu yang diharamkan maka ia akan mati atau hampir mati. Sedangkan Hajat adalah suatu keadaan di mana seseorang apabila tidak melakukan sesuatu yang diharamkan maka ia akan mengalami kesulitan besar.
a) Keadaan darurat yang berkaitan dengan kehamilan yang membolehkan aborsi adalah: Perempuan hamil menderita sakit fisik berat seperti kanker stadium lanjut, TBC dengan caverna dan penyakit-penyakit fisik berat lainnya yang harus ditetapkan oleh Tim Dokter. Dalam keadaan di mana kehamilan mengancam nyawa si ibu.
b) Keadaan hajat yang berkaitan dengan kehamilan yang dapat membolehkan aborsi adalah: Janin yang dikandung dideteksi menderita cacat genetic yang kalau lahir kelak sulit disembuhkan. Kehamilan akibat perkosaan yang ditetapkan oleh Tim yang berwenang yang di dalamnya terdapat antara lain keluarga korban, dokter, dan ulama.
c) Kebolehan aborsi sebagaimana dimaksud huruf b harus dilakukan sebelum janin berusia 40 hari.
Ketiga. Aborsi haram hukumnya dilakukan pada kehamilan yang terjadi akibat zina.
Fatwa MUI ini didasarkan banyak dalil, diantaranya: Firman Allah, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. al-Mu`minun: 12-14).
Sabda nabi, “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad, haditsnya sahih menurut Syakh Al-Albani).
Wallahu A’lam.
#